Terinspirasi dari kisah almarhum ayahku, mungkin umur beliau tidaklah panjang. Hanya 30 tahun, tapi aku merasa beliau telah mempunyai prestasi terbaik yang akan beliau persembahkan. Aku sendiri belum mengenal beliau secara dekat, karena aku masih berumur 6 tahun saat di tinggal beliau. Cerita tentang ayahku kudengar dari ibuku. Satu tahun ayahku cuti dari kuliahnya dan ia terjun langsung ke masyarakat untuk pembangunan masjid. Kata ibuku beliau adalah inspirator, penggerak dan penerang di kampung kami. Saat itu sekitar tahun 80-an mungkin di kampung masih sedikit listrik yang masuk. Ku rasa ayahku mempunyai peran besar saat itu, ia adalah mahasiswa Elektro IKIP Jogja. Heemmm... aku ingat masih ada fotoku berumur 3 tahun saat wisuda ayah. Aku juga sama lulusan Elektro juga, tapi serasa aku masih belum berbuat apa-apa.
Hidup ini sangat mahal, bahkan secara fisikpun tak dapat dijual dengan harta. Seperti mata kita, maukah ditukar dengan mobil Ferrari?. Apalagi dengan kehidupan kita, Allah telah menciptakan kita sangat spesial. Tidak ada orang lain yang menyamai kita. Hidup ini pun sangat singkat, kita lahir - tumbuh - dan meninggal. Oleh karena itu hidup di dunia ini harus mempunyai prestasi yang spesial yang terbaik untuk kita persembahkan.
Sebuah riset yang dilakukan terhadap lulusan MBA di Harvard Business School. Riset dilakukan diantara tahun 1979 dan 1989. Pada tahun 1979, para lulusan MBA tersebut ditanya 'apakah anda telah menyusun suatu rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis?' Hasilnya, 3% menyatakan telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis. 13% menyatakan telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik akan tetapi tidak tertulis. Sisanya, 84% menyatakan belum memiliki apalagi menyusun rencana hidup.
Sepuluh tahun kemudian, 1989, periset yang dipimpin oleh Mark McCormack melakukan wawancara dengan semua responden pada tahun 1979. Hasilnya 13% yang memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik tetapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang 84% (belum memiliki dan menyusun rencana hidup). Yang luar biasa, 3% para lulusan yang telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik dan tertulis memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibandingkan 97% lulusan sekolah bisnis tersebut.
Masa depan memang tidak bisa di tebak, bisa sukses bisa gagal. Kita hidup dalam tiga masa, masa lalu, saat ini dan masa depan. Ada pepatah yang mengatakan "Yesterday is history, tommorow is mistery, and today is present day" Kehidupan masa lalu sudah terjadi dan tidak bisa kita ubah lagi, masa depan masih menjadi misteri dan yang paling pasti adalah masa sekarang, atau saat ini. Kehidupan saat ini adalah hadiah, hadiah pemberian dari Sang Pencipta. Maka kita harus bisa memanfaatkan hadiah tersebut dengan sebaik-baiknya.
Walaupun masa depan masih menjadi misteri bagi kita, tapi kita bisa membuat perencanaan. Semakin jelas perencanaan yang kita buat maka semakin jelas pula arah tujuan hidup kita. Sama halnya dengan saat kita membuat proposal kegiatan, tujuannya apa, berapa lama kegiatannya berlangsung, anggaran dana yang dibutuhkan dan sebagainya. Saat membuat proposal tentunya masih belum pasti semua tujuan itu bisa tercapai, atau dana yang dibutuhkan mencukupi. Akan tetapi dengan lebih terrencana selalu akan lebih baik daripada membuat kegiatan dadakan. Begitu pula dengan hidup ini, tentunya lebih lama daripada kegiatan yang kita buat dalam proposal diatas, tetapi malah belum membuat perencanaan, termasuk diriku sendiri.
Jika Allah telah memanggilku kehadapanNya dan menanyakan "Aku telah menciptakan kamu dengan sangat spesial dan berharga mahal, coba ceritakan prestasi-prestasi apa yang pernah kamu capai ketika hidup di muka bumi yang sebanding dengan harga kamu?". Pasti akan keluar banyak keringat dingin karena belum mempunyai prestasi yang patut dibanggakan di hadapanNya. Prestasi terbaik itu tidak kita rancang dalam jangka waktu yang pendek, namun bisa jadi diraih ketika usia 40, 50 atau 60.
Begitulah, kita harus membuat perencanaan hidup lebih baik secara jelas, spesifik dan tertulis untuk merancang prestasi terbaik yang nanti akan kita persembahkan kepadaNya. Boleh jadi perencanaan tersebut belum terasa 1 sampai 3 tahun kedepan, tetapi ini untuk jangka panjang. Aku juga ingin membuat proposal hidup seperti yang telah dibuat oleh mas Jamil. Bismillah.
sumber: workbook "Tuhan, Inilah Proposal Hidupku" - Jamil Azzaini (http://jamil.niriah.com/)





