Setelah beberapa minggu ini aku merasa jenuh dengan aktifitasku, ditambah lagi dengan kondisi badan yang menurun jadi merasa hari berganti hari tanpa ada perubahan. Atmosfer dunia kerja memang berbeda dengan atmosfer ketika kita masih sekolah atau kuliah. Perbedaan umur, perbedaan kultur, dan lainnya menjadikan kita harus pandai pandai dalam beradaptasi, cara bertutur kata dan bersikap pun harus dibedakan bagaimana dengan atasan, bawahan atau rekan kerja. Bagiku sih tidak terlalu menjadi soal, hanya saja terkadang kita saat masih dalam kuliah banyak teman seumuran, biasa banyak bercanda, bertanya, beradu argument ataupun mencontek (hehe.. ketauan males ngerjain tugas), jadi masih merasa ‘selevel’ dengan teman. Apalagi sekarang tidak tinggal di kost banyak temen yang kalau malam masih sering ngobrol, nonton tv, maen kartu apalagi sampe pagi. huhuhu… kalau sekarang setelah jam 9 malam langsung naik loteng terus ke kamar tidur. Serasa sepi deh, hanya qompie dan inet ini temenku.
Adanya teman bisa kita jadikan rival untuk bersaing, itulah yang bisa menjadikan tidak jenuh. Jenuh sebenarnya terjadi karena merasa melakukan sesuatu terus menerus dan tidak berubah dalam suatu waktu. Tetapi harus kita ingat kembali apa yang dimaksud dengan proses. Proses akan terus berjalan, entah itu dalam waktu singkat atau cepat. Kita sendiri harus mampu mengukur kecepatan proses itu berlangsung disesuaikan dengan kemampuan kita. Jangan terlalu cepat sehingga kita sendiri tidak mampu mengejarnya dan jangan terlalu lambat sehingga akan merasa jenuh. Oleh karena itu harus ada yang namanya target, target itu sebisanya harus kita tulis dalam jangka berapa lama akan kita capai target tersebut.
Sebenarnya tidak terlalu tepat juga ketika menjadikan orang lain sebagai pembanding dalam mencapai kesuksesan, karena ukuran kesuksesan tiap orang itu berbeda-beda. Ketika tidak menemukan pembanding maka bisa jadi tidak akan berkembang atau bisa menjadi sombong. Maka ukuran yang tepat sebagai pembanding adalah diri kita sendiri dengan target capaian yang diinginkan.
Saat males, jenuh, pengen nyari-nyari semangat dari orang lain akhirnya liat-liat status di fesbuk, plurk, twitter tapi rasanya status tiap orang juga begitu-begitu aja, jadi kurang menarik. Trus buka buka multiply temen biasanya banyak yang lucu-lucu atau menarik, tapi ngerasa sama aja. Blog walking, banyak blog yang belum di update. Buka kaskus,pinguin, berita, detik, kompas, eramuslim, dakwatuna, warnaislam, .. tidaaakkkk… rasanya semuanya tidak ada yang menarik dan sama saja. Kemudian tiduran buka-buka buku… tulisannya juga itu-itu aja. Akhirnya tiduran sambil merenung mulai dari kecil sampai sekarang, tiba-tiba terlintas kata-kata guru bahasa Indonesia saat SMA “Setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini adalah hebat”. Aku coba merenungkan kembali perkataan tersebut sambil terbayang apa yang telah kulihat-lihat tadi dari teman-temanku dan kubandingkan dengan waktu awal kali bertemu. Aku jadi merasa hidup dikelilingi oleh orang-orang hebat dan aku juga merasa hebat setelah dibandingkan dengan saat masih kecil. Yah begitulah bisa dijadikan cara untuk membangkitkan kembali semangat, ternyata dari diri sendiri bukan dari orang lain.
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..."
-Q.S. Ali ‘Imran : 110-
Hal yang paling berat dalam suatu hal adalah mengawali sesuatu. Biasanya akan banyak pikiran yang mengusik seperti “ah nanti aja bisa dikerjakan masih ada waktu kok”, “sepertinya sudah telat kalau dikerjakan sekarang”, “sudah tidak bisa lagi kalau sekarang”, “hiburan dulu deh, itu dikerjakan setelah ini”, “aku tidak bisa” dan masih banyak lagi yang menjadi penghambat pikiran kita. Awal sesuatu itu memang berat seperti halnya roket mau meluncur meninggalkan bumi pasti butuh tenaga yang dahsyat, tapi setelah mengorbit ia akan mengikuti pergerakan rotasi bumi dengan sendirinya. Seperti itulah jika kita punya impian yang melayang diatas langit juga harus punya persiapan yang matang. Jangan saklek mengawali sesuatu dengan seberat itu menjadikan pesimis diawal, mulailah dengan hal yang ringan-ringan saja dan tiap hari harus berubah lebih baik. Bukan hal yang anget-anget diawal terus kemudian mlempem, tapi akankah lebih baik jika tiap waktu selalu lebih baik walaupun itu hal yang kecil.
Hanya ada dua cara untuk menjalani hidup Anda.
Yang pertama adalah menjalaninya seakan-akan keajaiban itu tidak pernah ada.
Yang kedua adalah menjalaninya seakan-akan segala sesuatu adalah keajaiban.
-Albert Einstein-
Sejak dari hari kamis kemaren disuruh benerin, ada beberapa pelanggan yang tidak bisa browsing. Setelah di cek ternyata beberapa pelanggan telfon itu cuma dalam satu modul aja. Langsung aja kepikiran kalau yang rusak itu modul GILCAnya, nah diganti dah dengan modul yang lain, eh ternyata hasilnya sama aja gak berubah. Hari telah sore, jam 5 lebih. Lantas ku bilang ke bapak Telkomnya, “pak senin aja ya perbaikannya” Akhirnya senin kemaren ku datangi lagi site itu, setelah nanya-nanya temen dikasih saran di restart aja atau modul GISnya diganti ke slave. Wah ngerestart system bisa jadi ada gangguan telpon tidak bisa digunakan, untungnya masih baru dan pelanggannya baru sekitar seratusan. Banyak juga kalau begitu, kemungkinan sekitar 3 menit baru kembali seperti semula. Setelah direstart atau diganti modul GISnya ternyata masih sama saja. Pikirkan aja ada sebuah keajaiban hehe.. sambil ngerasa gak mungkin juga. Lantas kubuka dokumen lama dan sedikit utak-atik konfigurasinya dan teeteeett…. Alhamdulillah berhasil. Yah dengan modal sabar dan tawakal tak lupa berdo’a akhirnya terpecahkan juga masalah.

Mungkin ada hal kecil barangkali terlupakan, suatu hal yang kita anggap biasa bisa jadi itu adalah luarbiasa. Benar juga kata-kata Einstein diatas, aku memilih yang kedua menjalani sesuatu adalah keajaiban. Kita ambil contoh mengapa jari kita bisa menekuk, itu adalah hal yang telah kita tahu dan itu hal yang biasa saja karena tiap hari kita juga menggerakkannya. Tapi coba kita renungi lagi bagaimana pergerakan otot jari ketika menekuk, tanpa ada perintah dari syaraf maka jari tersebut tidak akan bergerak, dan syaraf tidak hanya menggerakkan satu sel saja melainkan berjuta sel otot kita sehingga jari bisa menekuk. Harus senantiasa kita syukuri jika ada salah satu sendi tidak mau bergerak maka kita akan kesusahan. Semoga bisa mengambil hikmah mencari keajaiban yang akan terjadi pada hari ini.
2 komentar:
tes pake anonim
cuma tes komentar..
Poskan Komentar