Aku Tidak Terlibat

“Hei kesini!!! Siapa namamu!!?” Seorang berbadan tinggi tegap, berjaket kulit hitam tiba-tiba menginvestigasi beberapa orang di kantor itu.
“Ada apa ini, ada apa? Yusuf pun kebingungan, tiba-tiba diseret masuk kedalam suatu ruangan untuk diperiksa.

Jam 7 pagi saat tiba di kantor, Yusuf sudah merasa tidak enak. Tidak seperti biasanya, semenjak terungkap kasus markus di kantornya tiap orang di investigasi. Beberapa mobil dan orang-orang dilengkapi dengan senjata telah memeriksa setiap kendaraan yang masuk gedung tempat Yusuf bekerja.

“Namamu Yusuf kan? Kamu kenal orang ini?” lelaki itu menunjukkan foto di hadapannya.
“Iya kenal.”
“Kamu satu tim dengan dia kan?”
“Iya pernah jadi satu tim, ada apa memangnya?”
“Orang ini telah terbukti melakukan markus! Kamu satu tim dengan dia, berarti kamu juga pasti dapat bagiannya kan?!! Jawab!!” dengan nada membentak orang itu langsung menuduh yusuf terlibat dalam kasus tersebut.
“Tidak, saya tidak terlibat dengannya atau mendapat jatah bagian”
“Lha itu dia, trus saat kamu di undang makan di sebuah hotel 2 minggu yang lalu itu pakai uang siapa?”
“Saya tidak tau, itu dari kantor!”
“Dari kantor yang mana? Jawab yang benar!!”
“Astaghfirullah,… sudah saya katakan. Demi Allah, saya tidak tau menau mengenai itu!”

Sudah seminggu ini Yusuf diperiksa oleh tim investigasi. Selama bekerja Yusuf pernah satu tim dengan seorang gembong markus, lalu ia dijadikan sebagai saksi, namun tidak menuntut kemungkinan bahwa Yusuf juga akan diseret menjadi tersangka. Oleh karena itu di kantornya ia telah mendapat sangsi dibebas tugaskan untuk sementara. Tetapi walaupun begitu ia tetap wajib datang ke kantor untuk melaksanakan tugasnya dengan tidak ada gaji sama sekali. Itu sudah menjadi ketentuan dari kantor tersebut.

“Hei maling, berapa banyak yang kau dapat dari hasil itu?”
“Huh najis, jangan sholat disini!! Pergi sana!! Sok-sok aja tiap hari ke masjid, tapi tak taunya seorang penipu”

“Astaghfirullah, apa salah hamba ya Rabb…” dalam hatinya. Setiap hari ia menjalani masa-masa yang berat. Di kantor ia tetap harus masuk untuk di investigasi, sementara saat pulang ke rumah banyak yang mencemoohnya.

Ia hanya dapat memohon pada Yang Maha Kuasa untuk meringankan beban ini. “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui apa yang telah hamba perbuat. Tunjukkanlah kebenaran yang hakiki. Ampunilah hamba jika ada khilaf”


* * *


Mari do’akan saudara kita yang benar-benar jujur dan menjaga idealisme mereka agar tidak terlibat dalam kasus seperti ini. Dan agar di beri ketabahan dalam menghadapi cobaan.

Just Flash Fiction

Terinspirasi dari : http://www.facebook.com/pages/Luthfi-Hasan-Ishaaq/366657280024
http://www.detikfinance.com/read/2010/04/07/144834/1333901/4/lupa-lepas-name-tag-pegawai-pajak-diteriaki-maling

0 komentar: