Rara masih penasaran dengan sikap Farhan. Sudah 2 bulan ini sama jarang berkomunikasi, tidak ada lebih tepatnya. Bahkan kabar pun tak terdengar, walaupun rumah mereka hanya berbeda satu komplek. Rara mencoba menghubunginya melalui sms tapi tidak dibalas, YM tak pernah aktif, dan status Fbnya pun tak terupdate.
“Kemana ini Farhan? Tak ada kabar darinya” rara semakin penasaran, sebenarnya ada sesuatu yang terpendam di hati Rara. Yah walaupun semenjak kecil berteman, bercanda, seperti tak ada bedanya dengan teman-teman yang lain, tapi ketika Farhan tanpa ada kabar ia menjadi gelisah di hatinya.
Setiap malam Rara bersujud, meminta petunjuk dari Allah. “Ya Allah, tunjukkanlah yang terbaik bagiku Ya Rabb… Berikanlah yang terbaik juga bagi Farhan, aku ingin tau bagaimana kabarnya”. Dalam setiap do’anya menyelipkan do’a untuk Farhan, tapi dalam hatinya ia ada harapan Rara menjadi yang terbaik untuk Farhan.
“Ting Tong… Ting Tong.. Assalamu’alaikum…” Bunyi bel rumah Rara.
“Siapa ya?”
“Ini mbak ada surat untuk Raihanah Husni, benar disini rumahnya?” tanya pak pos
“Iya saya sendiri” Rara bergegas membenarkan jilbabnya, lari membukakan pintu depan.
“ini mbak”
“Makasih pak. Dari siapa ya?”
“Assalamu’alaikum” tanpa menjawab pak pos langsung melaju mengantar surat lainnya.
“Waalaikumussalam warahmatullah”
“Hah dari Farhan.” Rara langsung merobek amplop dan membuka suratnya.
“haaahh… surat undangan!!” Rara terkaget lalu membanting pintu dan lari ke kamarnya.
Air matanya bercucuran, tak kuasa ia menahan perasaannya
Rara berusaha tetap menjaga perasaannya, Ia hadir di pernikahan Farhan. Tapi… tetap saja hati perempuannya tak bisa di kendalikan. Rara tak sanggup melihat Farhan duduk di pelaminan, mulai sejak masuk ruangan Rara setengah gelisah, ia sibukkan untuk mengambil makanan atau mengobrol dengan tamu yang lain.
Giliran mengantri untuk bersalaman, dengan berat hati Rara harus mengucapkan selamat. Saat itu pandangan Rara hanya tertuju pada Farhan. Semakin maju antrian, semakin berdegup kencang jantung Rara.
Sampai pada saat pandangan Farhan juga tertuju pada Rara. Mereka berdua saling beradu pandangan. Waktu serasa membeku. Belum sempat bersalaman dengan pengantin perempuan, berlinang sudah terlihat membasahi mata Rara. Tidak kuat menahan air matanya Rara langsung lari keluar. Farhan bertanya-tanya dalam hatinya, ia mau mengejar Rara. Tapi tangannya di pegang oleh istrinya.
0 komentar:
Poskan Komentar